Berbicara pendidikan tentu tidak lepas dari tingkatan yang akan dilalui. Dalam sistem Kapitalisme, setiap tingkatan punya standar tersendiri untuk bisa dikatakan “berprestasi”. Berbagai prosedur dan tahapan dilalui dengan berbagai perubahan yang sampai hari ini semakin memberatkan para pelajar.
Kampus adalah salah satu tingkatan dalam pendidikan, dimana didalamnya berkumpul para intelektual, ada mahasiswa dan juga dosen. Mahasiwa adalah orang-orang yang dididik untuk menjadi para intelektual dan meneruskan estafet kepemimpinan bangsa. Di tangan merekalah arah perjuangan dan perubahan dilakukan. Merekalah yang diharapkan mampu memimpin bangsa ini ke arah yang lebih baik. Peran penting mahasiswa sebagai agent of change dinanti-nanti oleh masyarakat. Dosen sangat berperan untuk mengajarkan keilmuan yang dikuasainya dan diharapkan mampu mendidik para mahasiswa sesuai apa yang diinginkan oleh masyarakat dan bangsa ini.
Namun ironis, jika kita melihat kondisi sistem pendidikan dalam balutan kapitalisme. Yang nampak dan dirasakan hanyalah keadaan yang sangat memberatkan serta mematikan sikap kritis dan kreatif mahasiswa. Mulai dari biaya yang mahal, sehingga menutup pintu bagi masyarakat yang kurang mampu, sampai kurikulum yang padat sehingga jadwal kuliah penuh seharian setiap harinya. Waktu mahasiswa hanya terbatas pada beberapa kegiatan rutin yaitu kuliah, tugas laporan, makan dan tidur. Akibatnya, mahasiswa dipaksa untuk tidak bisa membagi waktunya melakukan aktivitas penting sebagai seorang muslim yaitu dakwah dan mengkaji islam.
Mahasiswa mempelajari Ilmu pengetahuan hanya sekedar ilmu saja (akademis) dan untuk bisa hidup (mendapat pekerjaan). Hanya mahasiswa yang mempunyai mabda dan pemikiran kritis yang mempelajari ilmu pengetahuan dalam rangka kemaslahatan dan kebangkitan negaranya. Motivasi mempelajari ilmu hanya sebatas untuk mendapatkan nilai dan IPK yang tinggi. Ilmu yang diajarkan sebagaian besar adalah ilmu-ilmu dunia dan bersifat teoritis. Sedangkan Ilmu islam diberikan porsi yang sangat sedikit dan hanya ada pada tingkat pertama. Sehingga, keadaan ini memperparah akidah, pola pikir dan pola sikap mahasiswa. Maka wajar, jika kehidupan kampus dipenuhi dengan kegiatan yang berbau maksiat. Mulai dari aktivitas pacaran, ikhtilat, konser musik, sampai free sex. Mahasiswa juga dibentuk untuk bersikap individualis, cuek, dan pragmatis.
Kampus juga memiliki peran penting bagi arah perpolitikan negara. Mahasiswa dipandang sebagai sekelompok pemuda yang mampu mengadakan suatu perubahan, ini dapat dilihat dari sejarah lahirnya reformasi dengan pergantian rezim. Tentu saja mahasiswa tidak dapat bergerak sendirian, jika tidak disokong oleh orang ataupun organisasi yang mempunyai modal dan kekuatan besar. Sehingga wajar pula apabila di kampus berkembang sejumlah paham-paham yang menyesatkan dan itu diemban oleh sekelompok mahasiswa. Kampus kemudian dijadikan sasaran empuk untuk mengokohkan suatu kepemimpinan baik oleh organisasi maupun ideologi tertentu.
Inilah yang terjadi dengan kondisi sistem pendidikan dinegeri kita, khususnya kampus. Tentu sangat berat bagi mahasiswa yang mengemban mabda Islam untuk mendakwahi dan meraih kepemimpinan kampus. Di samping mereka harus mengikuti sistem yang ada, mereka juga harus membersihkan pemikirannya agar tetap jernih terhadap paham-paham sesat yang didapatinya baik dari perkuliahan maupun opini-opini yang disebarkan. Perjuangan yang akan mengerahkan segala kemampuan, tenaga, waktu, pemikiran dan materi untuk mengubah keadaan ini. Tapi, sadarilah bahwa ini adalah aktivitas mulia yang hanya diemban oleh orang-orang yang terpilih. Yakinlah bahwa janji Allah adalah pasti, kemenangan bagi orang-orang yang berjuang menegakkan Islam.